Oleh : Fajrul Iman Ibrahim N.S.A (003/MAHESA/PENDIRI/2007)
I. PENDAHULUAN
Aktivitas mendaki gunung akhir-akhir ini nampaknya bukan lagi merupakan suatu
kegiatan yang langka, artinya tidak lagi hanya dilakukan oleh orang tertentu (yang
menamakan diri sebagai kelompok Pencinta Alam, Penjelajah Alam dan semacamnya).
Melainkan telah dilakukan oleh orang-orang dari kalangan umum. Namun demikian
bukanlah berarti kita bisa menganggap bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan
aktivitas mendaki gunung, menjadi bidang ketrampilan yang mudah dan tidak memiliki
dasar pengetahuan teoritis. Didalam pendakian suatu gunung banyak hal-hal yang
harus kita ketahui (sebagai seorang pencinta alam) yang berupa : aturan-aturan
pendakian, perlengkapan pendakian, persiapan, cara-cara yang baik, untuk mendaki
gunung dan lain-lain. Segalanya inilah yang tercakup dalam bidang Mountaineering.
Mendaki gunung dalam pengertian Mountaineering terdiri dari tiga tahap kegiatan,
yaitu :
kegiatan yang langka, artinya tidak lagi hanya dilakukan oleh orang tertentu (yang
menamakan diri sebagai kelompok Pencinta Alam, Penjelajah Alam dan semacamnya).
Melainkan telah dilakukan oleh orang-orang dari kalangan umum. Namun demikian
bukanlah berarti kita bisa menganggap bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan
aktivitas mendaki gunung, menjadi bidang ketrampilan yang mudah dan tidak memiliki
dasar pengetahuan teoritis. Didalam pendakian suatu gunung banyak hal-hal yang
harus kita ketahui (sebagai seorang pencinta alam) yang berupa : aturan-aturan
pendakian, perlengkapan pendakian, persiapan, cara-cara yang baik, untuk mendaki
gunung dan lain-lain. Segalanya inilah yang tercakup dalam bidang Mountaineering.
Mendaki gunung dalam pengertian Mountaineering terdiri dari tiga tahap kegiatan,
yaitu :
1. Berjalan (Hill Walking)
Secara khusus kegiatan ini disebut mendaki gunung. Hill Walking adalah kegiatan
yang paling banyak dilakukan di Indonesia. Kebanyakan gunung di Indonesia memang
hanya memungkinkan berkembangnya tahap ini. Disini aspek yang lebih menonjol
adalah daya tarik dari alam yang dijelajahi (nature interested)
2. Memanjat (Rock Climbing)
Walaupun kegiatan ini terpaksa harus memisahkan diri dari Mountaineering, namun ia
tetap merupakan cabang darinya. Perkembangan yang pesat telah melahirkan banyak
metode-metode pemanjatan tebing yang ternyata perlu untuk diperdalam secara
khusus. Namun prinsipnya dengan tiga titik dan berat dan kaki yang berhenti,
tangan hanya memberi pertolongan.
3. Mendaki gunung es (Ice & Snow Climbing)
Kedua jenis kegiatan ini dapat dipisahkan satu sama lain. Ice Climbing adalah
cara-cara pendakian tebing/gunung es, sedangkan Snow Climbing adalah teknik-teknik
pendakian tebing gunung salju.
Dalam ketiga macam kegiatan di atas tentu didalamnya telah mencakup :
Mountcamping, Mount Resque, Navigasi medan dan peta, PPPK pegunungan, teknik-
teknik Rock Climbing dan lain-lain.
Secara khusus kegiatan ini disebut mendaki gunung. Hill Walking adalah kegiatan
yang paling banyak dilakukan di Indonesia. Kebanyakan gunung di Indonesia memang
hanya memungkinkan berkembangnya tahap ini. Disini aspek yang lebih menonjol
adalah daya tarik dari alam yang dijelajahi (nature interested)
2. Memanjat (Rock Climbing)
Walaupun kegiatan ini terpaksa harus memisahkan diri dari Mountaineering, namun ia
tetap merupakan cabang darinya. Perkembangan yang pesat telah melahirkan banyak
metode-metode pemanjatan tebing yang ternyata perlu untuk diperdalam secara
khusus. Namun prinsipnya dengan tiga titik dan berat dan kaki yang berhenti,
tangan hanya memberi pertolongan.
3. Mendaki gunung es (Ice & Snow Climbing)
Kedua jenis kegiatan ini dapat dipisahkan satu sama lain. Ice Climbing adalah
cara-cara pendakian tebing/gunung es, sedangkan Snow Climbing adalah teknik-teknik
pendakian tebing gunung salju.
Dalam ketiga macam kegiatan di atas tentu didalamnya telah mencakup :
Mountcamping, Mount Resque, Navigasi medan dan peta, PPPK pegunungan, teknik-
teknik Rock Climbing dan lain-lain.
II. PERSIAPAN MENDAKI GUNUNG
1. Pengenalan Medan
Untuk menguasai medan dan memperhitungkan bahaya obyek seorang pendaki harus
menguasai menguasai pengetahuan medan, yaitu membaca peta, menggunakan kompas
serta altimeter.
Mengetahui perubahan cuaca atau iklim. Cara lain untuk mengetahui medan yang akan
dihadapi adalah dengan bertanya dengan orang-orang yang pernah mendaki gunung
tersebut. Tetapi cara yang terbaik adalah mengikut sertakan orang yang pernah
mendaki gunung tersebut bersama kita.
2. Persiapan Fisik
Persiapan fisik bagi pendaki gunung terutama mencakup tenaga aerobic dan
Untuk menguasai medan dan memperhitungkan bahaya obyek seorang pendaki harus
menguasai menguasai pengetahuan medan, yaitu membaca peta, menggunakan kompas
serta altimeter.
Mengetahui perubahan cuaca atau iklim. Cara lain untuk mengetahui medan yang akan
dihadapi adalah dengan bertanya dengan orang-orang yang pernah mendaki gunung
tersebut. Tetapi cara yang terbaik adalah mengikut sertakan orang yang pernah
mendaki gunung tersebut bersama kita.
2. Persiapan Fisik
Persiapan fisik bagi pendaki gunung terutama mencakup tenaga aerobic dan
kelenturan otot. Kesegaran jasmani akan mempengaruhi transport oksigen melelui
peredaran darah ke otot-otot badan, dan ini penting karena semakin tinggi suatu
daerah semakin rendah kadar oksigennya.
3. Persiapan Tim
Menentukan anggota tim dan membagi tugas serta mengelompokkannya dan merencanakan
semua yang berkaitan dengan pendakian.
4. Perbekalan dan Peralatan
Persiapan perlengkapan merupakan awal pendakian gunung itu sendiri. Perlengkapan
mendaki gunung umumnya mahal, tetapi ini wajar karena ini merupakan pelindung
keselamatan pendaki itu sendiri. Gunung merupakan lingkungan yang asing bagi organ
tubuh kita yang terbiasa hidup di daerah yang lebih rendah. Karena itu diperlukan
perlengkapan yang memadai agar pendaki mampu menyesuaikan di ketinggian yang baru
itu. Seperti sepatu, ransel, pakaian, tenda, perlengkapan tidur, perlengkapan
masak, makanan, obat-obatan dan lain-lain.
peredaran darah ke otot-otot badan, dan ini penting karena semakin tinggi suatu
daerah semakin rendah kadar oksigennya.
3. Persiapan Tim
Menentukan anggota tim dan membagi tugas serta mengelompokkannya dan merencanakan
semua yang berkaitan dengan pendakian.
4. Perbekalan dan Peralatan
Persiapan perlengkapan merupakan awal pendakian gunung itu sendiri. Perlengkapan
mendaki gunung umumnya mahal, tetapi ini wajar karena ini merupakan pelindung
keselamatan pendaki itu sendiri. Gunung merupakan lingkungan yang asing bagi organ
tubuh kita yang terbiasa hidup di daerah yang lebih rendah. Karena itu diperlukan
perlengkapan yang memadai agar pendaki mampu menyesuaikan di ketinggian yang baru
itu. Seperti sepatu, ransel, pakaian, tenda, perlengkapan tidur, perlengkapan
masak, makanan, obat-obatan dan lain-lain.
III. BAHAYA DI GUNUNG
Dalam olahraga mendaki gunung ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya
suatu pendakian.
1. Faktor Internal
Yaitu faktor yang datang dari si pendaki sendiri. Apabila faktor ini tidak
dipersiapkan dengan baik akan mendatangkan bahaya subyek yaitu karena persiapan
yang kurang baik, baik persiapan fisik, perlengkapan, pengetahuan, ketrampilan dan
mental.
Yaitu faktor yang datang dari si pendaki sendiri. Apabila faktor ini tidak
dipersiapkan dengan baik akan mendatangkan bahaya subyek yaitu karena persiapan
yang kurang baik, baik persiapan fisik, perlengkapan, pengetahuan, ketrampilan dan
mental.
2. Faktor Eksternal
Yaitu faktor yang datang dari luar si pendaki. Bahaya ini datang dari obyek
pendakiannya (gunung), sehingga secara teknik disebut bahaya obyek. Bahaya ini
dapat berupa badai, hujan, udara dingin, longsoran hutan lebat dan lain-lain.
Kecelakaan yang terjadi di gunung-gunung Indonesia umumnya disebabkan faktor
intern. Rasa keingintahuan dan rasa suka yang berlebihan dan dorongan hati untuk
pegang peranan, penyakit, ingin dihormati oleh semua orang serta keterbatasan-
keterbatasan pada diri kita sendiri.
Yaitu faktor yang datang dari luar si pendaki. Bahaya ini datang dari obyek
pendakiannya (gunung), sehingga secara teknik disebut bahaya obyek. Bahaya ini
dapat berupa badai, hujan, udara dingin, longsoran hutan lebat dan lain-lain.
Kecelakaan yang terjadi di gunung-gunung Indonesia umumnya disebabkan faktor
intern. Rasa keingintahuan dan rasa suka yang berlebihan dan dorongan hati untuk
pegang peranan, penyakit, ingin dihormati oleh semua orang serta keterbatasan-
keterbatasan pada diri kita sendiri.
IV. LANGKAH-LANGKAH DAN PROSEDUR PENDAKIAN
Umumnya langkah-langkah yang biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok pencinta alam
dalam suatu kegiatan pendakian gunung meliputi tiga langkah, yaitu :
1. Persiapan
Yang dimaksud persiapan pendakian gunung adalah :
•Menentukan pengurus panitia pendakian, yang akan bekerja mengurus :
Perijinan pendakian, perhitungan anggaran biaya, penentuan jadwal pendakian,
persiapan perlengkapan/transportasi dan segala macam urusan lainnya yang berkaitan
dengan pendakian.
•Persiapan fisik dan mental anggota pendaki, ini biasanya dilakukan dengan
berolahraga secara rutin untuk mengoptimalkan kondisi fisik serta memeksimalkan
ketahanan nafas. Persiapan mental dapat dilakukan dengan mencari/mempelajari
kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga timbul dalam pendakian beserta cara-cara
pencegahan/pemecahannya.
2. Pelaksanaan
Bila ingin mendaki gunung yang belum pernah didaki sebelumnya disarankan membawa
guide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang yang telah pernah mendaki gunung
tersebut, atau bisa juga dilakukan dengan pengetahuan membaca jalur pendakian.
Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta pendakian dibagi menjadi tiga kelompok,
yaitu :
- Kelompok pelopor
Yang dimaksud persiapan pendakian gunung adalah :
•Menentukan pengurus panitia pendakian, yang akan bekerja mengurus :
Perijinan pendakian, perhitungan anggaran biaya, penentuan jadwal pendakian,
persiapan perlengkapan/transportasi dan segala macam urusan lainnya yang berkaitan
dengan pendakian.
•Persiapan fisik dan mental anggota pendaki, ini biasanya dilakukan dengan
berolahraga secara rutin untuk mengoptimalkan kondisi fisik serta memeksimalkan
ketahanan nafas. Persiapan mental dapat dilakukan dengan mencari/mempelajari
kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga timbul dalam pendakian beserta cara-cara
pencegahan/pemecahannya.
2. Pelaksanaan
Bila ingin mendaki gunung yang belum pernah didaki sebelumnya disarankan membawa
guide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang yang telah pernah mendaki gunung
tersebut, atau bisa juga dilakukan dengan pengetahuan membaca jalur pendakian.
Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta pendakian dibagi menjadi tiga kelompok,
yaitu :
- Kelompok pelopor
- Kelompok inti
- Kelompok penyapu
Masing-masing kelompok, ditunjuk penanggungjawabnya oleh komandan lapangan
(penanggungjawab koordinasi).
Daftarkan kelompok anda pada buku pendakian yang tersedia di setiap base camp
pendakian, biasanya menghubungi anggota SAR atau juru kunci gunung tersebut.
Didalam perjalanan posisi kelompok diusahakan tetap yaitu : Pelopor di depan
(disertai guide), kelompok initi di tengah, dan team penyapu di belakang. Jangan
sesekali merasa segan untuk menegur peserta yang melanggar peraturan ini.
Demikian juga saat penurunan, posisi semula diusahakan tetap. Setelah tiba di
puncak dan di base camp jangan lupa mengecek jumlah peserta, siapa tahu ada yang
tertinggal.
3. Evaluasi
Biasakanlah melakukan evaluasi dari setiap kegiatan yang anda lakukan, karena
dengan evaluasi kita akan tahu kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan. Ini
menuju perbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).
- Kelompok penyapu
Masing-masing kelompok, ditunjuk penanggungjawabnya oleh komandan lapangan
(penanggungjawab koordinasi).
Daftarkan kelompok anda pada buku pendakian yang tersedia di setiap base camp
pendakian, biasanya menghubungi anggota SAR atau juru kunci gunung tersebut.
Didalam perjalanan posisi kelompok diusahakan tetap yaitu : Pelopor di depan
(disertai guide), kelompok initi di tengah, dan team penyapu di belakang. Jangan
sesekali merasa segan untuk menegur peserta yang melanggar peraturan ini.
Demikian juga saat penurunan, posisi semula diusahakan tetap. Setelah tiba di
puncak dan di base camp jangan lupa mengecek jumlah peserta, siapa tahu ada yang
tertinggal.
3. Evaluasi
Biasakanlah melakukan evaluasi dari setiap kegiatan yang anda lakukan, karena
dengan evaluasi kita akan tahu kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan. Ini
menuju perbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).
V. FISIOLOGI TUBUH DI PEGUNUNGAN
Mendaki gunung adalah perjuangan, perjuangan manusia melawan ketinggian dan segala
konsekuensinya. Dengan berubahnya ketinggian tempat, maka kondisi lingkungan pun
jelas akan berubah. Anasir lingkungan yang perubahannya tampak jelas bila
dikaitkan dengan ketinggian adalah suhu dan kandungan oksigen udara. Semakin
bertambah ketinggian maka suhu akan semakin turun dan kandungan oksigen udara juga
semakin berkurang.
Fenomena alam seperti ini beserta konsekuensinya terhadap keselamatan jiwa kita,
itulah yang teramat penting kita ketahui dalam mempelajari proses fisiologi tubuh
di daerah ketinggian. Banyak kecelakaan terjadi di pegunungan akibat kurang
pengetahuan, hampa pengalaman dan kurang lengkapnya sarana penyelamat.
konsekuensinya. Dengan berubahnya ketinggian tempat, maka kondisi lingkungan pun
jelas akan berubah. Anasir lingkungan yang perubahannya tampak jelas bila
dikaitkan dengan ketinggian adalah suhu dan kandungan oksigen udara. Semakin
bertambah ketinggian maka suhu akan semakin turun dan kandungan oksigen udara juga
semakin berkurang.
Fenomena alam seperti ini beserta konsekuensinya terhadap keselamatan jiwa kita,
itulah yang teramat penting kita ketahui dalam mempelajari proses fisiologi tubuh
di daerah ketinggian. Banyak kecelakaan terjadi di pegunungan akibat kurang
pengetahuan, hampa pengalaman dan kurang lengkapnya sarana penyelamat.
1. Konsekuensi Penurunan Suhu
Manusia termasuk organisme berdarah panas (poikiloterm), dengan demikian manusia
memiliki suatu mekanisme thermoreguler untuk mempertahankan kondisi suhu tubuh
terhadap perubahan suhu lingkungannya. Namun suhu yang terlalu ekstrim dapat
membahayakan. Jika tubuh berada dalam kondisi suhu yang rendah, maka tubuh akan
terangsang untuk meningkatkan metabolisme untuk mempertahankan suhu tubuh internal
(mis : dengan menggigil). Untuk mengimbangi peningkatan metabolisme kita perlu
banyak makan, karena makanan yang kita makan itulah yang menjadi sumber energi dan
tenaga yang dihasilkan lewat oksidasi.
Manusia termasuk organisme berdarah panas (poikiloterm), dengan demikian manusia
memiliki suatu mekanisme thermoreguler untuk mempertahankan kondisi suhu tubuh
terhadap perubahan suhu lingkungannya. Namun suhu yang terlalu ekstrim dapat
membahayakan. Jika tubuh berada dalam kondisi suhu yang rendah, maka tubuh akan
terangsang untuk meningkatkan metabolisme untuk mempertahankan suhu tubuh internal
(mis : dengan menggigil). Untuk mengimbangi peningkatan metabolisme kita perlu
banyak makan, karena makanan yang kita makan itulah yang menjadi sumber energi dan
tenaga yang dihasilkan lewat oksidasi.
2. Konsekuensi Penurunan Jumlah Oksigen
Oksigen bagi tubuh organisme aerob adalah menjadi suatu konsumsi vital untuk
menjamin kelangsungan proses-proses biokimia dalam tubuh, konsumsi dalam tubuh
biasanya sangat erat hubungannya dengan jumlah sel darah merah dari konsentrasi
haemoglobin dalam darah. Semakin tinggi jumlah darah merah dan konsentrasi
Haemoglobin, maka kapasitas oksigen respirasi akan meningkat. Oleh karena itu
untuk mengatasi kekurangan oksigen di ketinggian, kita perlu mengadakan latihan
aerobic, karena disamping memperlancar peredaran darah, latihan ini juga
merangsang memacu sintesis sel-sel darah merah.
Oksigen bagi tubuh organisme aerob adalah menjadi suatu konsumsi vital untuk
menjamin kelangsungan proses-proses biokimia dalam tubuh, konsumsi dalam tubuh
biasanya sangat erat hubungannya dengan jumlah sel darah merah dari konsentrasi
haemoglobin dalam darah. Semakin tinggi jumlah darah merah dan konsentrasi
Haemoglobin, maka kapasitas oksigen respirasi akan meningkat. Oleh karena itu
untuk mengatasi kekurangan oksigen di ketinggian, kita perlu mengadakan latihan
aerobic, karena disamping memperlancar peredaran darah, latihan ini juga
merangsang memacu sintesis sel-sel darah merah.
3. Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani adalah syarat utama dalam pendakian. Komponen terpenting yang
ditinjau dari sudut faal olahraga adalah system kardiovaskulare dan
neuromusculare.
Seorang pendaki gunung pada ketinggian tertentu akan mengalami hal-hal yang kurang
enak, yang disebabkan oleh hipoksea (kekurangan oksigen), ini disebut penyakit
gunung (mountain sickness). Kapasitas kerja fisik akan menurun secara menyolok
Kesegaran jasmani adalah syarat utama dalam pendakian. Komponen terpenting yang
ditinjau dari sudut faal olahraga adalah system kardiovaskulare dan
neuromusculare.
Seorang pendaki gunung pada ketinggian tertentu akan mengalami hal-hal yang kurang
enak, yang disebabkan oleh hipoksea (kekurangan oksigen), ini disebut penyakit
gunung (mountain sickness). Kapasitas kerja fisik akan menurun secara menyolok
harus melengkapi dengan alat lainnya yaitu :
• Sit Harnes (dada), tali pengaman dada
• Harnes duduk, tali pengaman/tambatan pinggang
• Buntut sapi (Cow's Tails) atau tali pengaman darurat
• Maillon Rapide (Delta), penyambung harnes dan tempat mengait alat
• Croll (Chest Jammer) alat menaiki tali
• Hand Jammer, alat menaiki tali
• Decender, alat untuk menuruni tali
• Tali prusik, 2 pasang
• Webbing, tali pita.
B. Perlengkapan kolektif :
Peralatan ini sangat dibutuhkan untuk kegiatan bersama (beregu) dan harus ada
seseorang yang bertanggung jawab pada peralatan tersebut. Pemeliharaan barang
kolektif ini sebaiknya dilakukan bersama dan dapat juga ditugaskan kepada satu
orang. Sebaiknya yang memelihara alat tersebut diserahkan pada orang yang mengerti
pada peralatan tersebut, jangan diberikan pada pemula karena sensitifnya
peralatan. Namun adakalanya kecenderungan dalam suatu organisasi untuk melimpahkan
tanggung jawab tersebut pada pemula, dalam hal ini sangatlah tidak tepat.
•Tali, dalam hal ini mutlah diperlukan dalam kegiatan penelusuran gua
vertikal. Alat ini sangat sensitif dan nyawa penelusur bergantung pada kualitas
dan cara pemeliharaannya. Untuk penelusuran dipergunakan tali statik atau tali
Speleo dan diperlukan yang berdiameter 9 - 11 mili. Untuk panjang tali disesuaikan
dengan kebutuhan
•Tangga kawat baja, sangat fleksibel dalam penggunaannya dan mudah dibawa.
Sangat aman untuk melintasi air terjun terurtama jika rombongan sebagian besar
kurang mampu menggunakan peralatan SRT. Tiap penggunaan tangga baja ini harus
menggunakan pengaman (Safty line) tali dinamis
•Tas besar (speleo bag), untuk tempat tali atau peralatan yang lainnya
• Perahu karet, untuk mengarungi sungai atau danau
• Pulley, sering disebut dengan katrol dan bermanfaat untuk Rescue
8. Bahaya-bahaya
Survival dalam caving tidaklah dimungkinkan, oleh karena itu kecelakaan di dalam
gua selalu berakibat fatal. Karena dilakukan dalam keadaan gelap total maka
tingkat kesulitan dan resiko setiap aktifitas adalah 2 kali lipat daripada di luar
gua. Apalagi di Indonesia belum ada (belum mampu) membentuk suatu tim rescue (SAR)
gua baik secara lokal maupun nasional walaupun telah banyak gua dibuka sebagai
obyek wisata. Di luar negeri fasilitas SAR adalah sarana mutlak bagi
penyelenggaraan suatu obyek wisata gua.
NSS USA menyebutkan usia minimum penelusur gua (profesional dan amatir) adalah 20
tahun sebagai batas psikologis (kecuali beberapa gua wisata khusus mengijinkan
siswa SD masuk). Alasan utamanya karena 90% kejadian kecelakaan menimpa mereka
dengan klasifikasi "Young (Teenager) Male Unafiliated Novice" (Remaja/anak laki-
laki belasan tahun yang tidak terlatih dan tidak terdaftar pada kelompok
speleologi resmi). Namun di Indonesia tidak ada ketentuan batasan umur, bahkan di
daerah tertentu seperti di Karang Bolong Jawa Barat remaja belasan tahun telah
memasuki gua untuk menambang kapur atau sarang burung walet dengan peralatan
tradisional. Maka jelas sekali bahwa kestabilan emosional dan
keterlatihan/keterampilan yang memadai adalah syarat utama keselamatan
penelusuran. Bahkan secara internasional syarat keterampilan ini seharusnya
dinyatakan dalam bentuk sertifikasi yang dikeluarkan melalui kursus / pelatihan
resmi oleh Federasi Speleologi setempat (di Indonesia adalah HIKESPI).
Oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila kalangan penelusuran gua memiliki
motto keselamatan "SEDIA PAYUNG SEBELUM MENDUNG" sehingga tidak cukup bersiaga
dikala ada gejala bahaya namun justru jauh sebelum itu. Maka estimasi perubahan
situasi harus senantiasa diperhatikan. Tingginya jam terbang, pengetahuan,
keterampilan dan senioritas tidak cukup dijadikan patokan keamanan karena apa yang
bakal dihadapi di dalam gua tidak seorangpun dapat memastikan. Etika pencegahan
kecelakaan adalah :
8. Bahaya-bahaya
Survival dalam caving tidaklah dimungkinkan, oleh karena itu kecelakaan di dalam
gua selalu berakibat fatal. Karena dilakukan dalam keadaan gelap total maka
tingkat kesulitan dan resiko setiap aktifitas adalah 2 kali lipat daripada di luar
gua. Apalagi di Indonesia belum ada (belum mampu) membentuk suatu tim rescue (SAR)
gua baik secara lokal maupun nasional walaupun telah banyak gua dibuka sebagai
obyek wisata. Di luar negeri fasilitas SAR adalah sarana mutlak bagi
penyelenggaraan suatu obyek wisata gua.
NSS USA menyebutkan usia minimum penelusur gua (profesional dan amatir) adalah 20
tahun sebagai batas psikologis (kecuali beberapa gua wisata khusus mengijinkan
siswa SD masuk). Alasan utamanya karena 90% kejadian kecelakaan menimpa mereka
dengan klasifikasi "Young (Teenager) Male Unafiliated Novice" (Remaja/anak laki-
laki belasan tahun yang tidak terlatih dan tidak terdaftar pada kelompok
speleologi resmi). Namun di Indonesia tidak ada ketentuan batasan umur, bahkan di
daerah tertentu seperti di Karang Bolong Jawa Barat remaja belasan tahun telah
memasuki gua untuk menambang kapur atau sarang burung walet dengan peralatan
tradisional. Maka jelas sekali bahwa kestabilan emosional dan
keterlatihan/keterampilan yang memadai adalah syarat utama keselamatan
penelusuran. Bahkan secara internasional syarat keterampilan ini seharusnya
dinyatakan dalam bentuk sertifikasi yang dikeluarkan melalui kursus / pelatihan
resmi oleh Federasi Speleologi setempat (di Indonesia adalah HIKESPI).
Oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila kalangan penelusuran gua memiliki
motto keselamatan "SEDIA PAYUNG SEBELUM MENDUNG" sehingga tidak cukup bersiaga
dikala ada gejala bahaya namun justru jauh sebelum itu. Maka estimasi perubahan
situasi harus senantiasa diperhatikan. Tingginya jam terbang, pengetahuan,
keterampilan dan senioritas tidak cukup dijadikan patokan keamanan karena apa yang
bakal dihadapi di dalam gua tidak seorangpun dapat memastikan. Etika pencegahan
kecelakaan adalah :
• Tidak memaksakan menelusuri gua bila badan kurang sehat
• Keterampilan kurang terutama pada gua vertikal
• Peralatan tidak lengkap, kurang terawat dan sudah uzur
• Kesiapan mental kurang (sedang patah hati atau stress)
• Anggota terlemah adalah patokan standar penelusuran, apabila anggota
terlemah mengalami gangguan maka saat itu juga penelusuran harus dihentikan tanpa
dapat ditawar lagi
•Jumlah anggota kelompok tidak kurang dari 4 orang
terlemah mengalami gangguan maka saat itu juga penelusuran harus dihentikan tanpa
dapat ditawar lagi
•Jumlah anggota kelompok tidak kurang dari 4 orang
• Jangan masuk gua di musim hujan, seorang penelusur gua pada masa ini
biasanya cuti kegiatan dan hanya diisi dengan latihan ringan atau memperdalam
pengetahuan
•Mintalah ijin kepada orang tua dan aparat daerah setempat dan instansi
terkait sekaligus berpamitan dengan sejujurnya tentang tujuan dan lokasi kegiatan,
perhatikan dengan cermat serta patuhi segala wejangan atau nasihat mereka
•Tinggalkanlah pesan sebagai berikut :
biasanya cuti kegiatan dan hanya diisi dengan latihan ringan atau memperdalam
pengetahuan
•Mintalah ijin kepada orang tua dan aparat daerah setempat dan instansi
terkait sekaligus berpamitan dengan sejujurnya tentang tujuan dan lokasi kegiatan,
perhatikan dengan cermat serta patuhi segala wejangan atau nasihat mereka
•Tinggalkanlah pesan sebagai berikut :
o Hari, tanggal
o Nama pemimpin kelompok, alamat, no. telepon
o Nama, alamat, telepon anggota lain
o Tujuan memasuki gua : ILMIAH/OLAH RAGA/WISATA
o Nama gua, lokasi : (dukuh, desa, kecamatan, kabupaten) - Mulai masuk gua
pukul, rencana keluar pukul APABILA SAMPAI PUKUL..... BELUM KELUAR GUA MAKA
MUNGKIN TELAH TERJADI KECELAKAAN MAKA HARAP SEGERA MELAPOR KEPA- DA LURAH, POLISI
DAN MEMINTA BANTUAN DENGAN MENGHUBUNGI: - NAMA, ALAMAT, NOMER TELEPON - NAMA,
ALAMAT, NOMER TELEPON SEGALA PERONGKOSAN/UANG YANG DIPERLUKAN UNTUK MENERUSKAN
BERITA INI AKAN DIGANTI DUA KALI LIPAT. TERIMA KASIH.
Formulir ini diberikan kepada pejabat dan instansi berwenang setempat dan ditempel
di kaca mobil.
Macam-macam bahaya :
•Terjatuh, seringkali akibat kesalahan estimasi terhadap jarak (distorsi)
karena gelap. Melompat adalah hal yang haram dalam kegiatan penelusuran gua
•Kekurangan oksigen dan gas beracun, lorong penuh kelelawar atau tumpukan
guano, banyak terdapat akar pohon menjulur, tidak berair, berbau belerang dan
pengap harus dihindari karena penuh dengan kandungan gas beracun seperti CO dan
HS. Tanda-tanda umum kurangnya oksigen atau serangan gas racun biasanya terjadi
pening dan halusinasi
•Keruntuhan atap dan meledak, adalah kejadian tak terduga yang tidak dapat
dihindari bisa diakibatkan gempa bumi atau ledakan dalam gua (jangan membuang sisa
karbit dalam gua atau masuk ke lorong penuh guano dengan lampu karbit). Untuk
menghindarinya perhatikan apakah lokasi tersebut merupakan bekas penambangan kapur
atau dekat dengan lokasi peledakan dinamit sebuah proyek
•Banjir, bisa dideteksi bila terdengar suara gemuruh dalam lorong, air sungai
yang terasa hangat dan terlihat sampah hanyut dalam aliran air. Perhatikan batas
air di dinding sehingga dapat diperkirakan ketinggian air saat banjir, tentukan
juga sebuah lokasi atau cekungan di atas batas banjir sebagai tempat berlindung
darurat bila terjebak banjir
•Hewan berbisa, walaupun menurut pakar biospeleologi mereka ini hidup di
daerah mulut gua sampai 100 m. ke dalam namun bisa saja hewan seperti ular ditemui
jauh di dalam gua karena terhanyut aliran air atau terperosok ke dalam dari atap
atau ventilasi gua. Hindarilah cekungan dan lobang di sekitar mulut gua karena di
tempat itu mereka bersarang. Bahaya lain adalah gigitan atau kelelawar dapat
mengakibatkan rabies, kotorannya (guano) menyebabkan histoplasmosis (penyakit
jalan pernafasan seperti TBC). namun umumnya hewan gua tidak mengganggu
•Eksposure, hipotermia dan dehidrasi sangat mungkin terjadi akibat terpaan
angin kencang dari aven (ventilasi gua atau jendela karst), baju yang basah karena
berendam terlalu lama dalam air gua. Dehidrasi dapat dihindari dengan jalan minum
sebelum haus (ingat sedia payung sebelum mendung) karena minum di saat haus datang
berarti sudah sangat terlambat karena lebih dari 25% cairan tubuh telah lenyap,
ingat penguapan cairan dan panas tubuh dalam gua terjadi sangat cepat tanpa terasa
pukul, rencana keluar pukul APABILA SAMPAI PUKUL..... BELUM KELUAR GUA MAKA
MUNGKIN TELAH TERJADI KECELAKAAN MAKA HARAP SEGERA MELAPOR KEPA- DA LURAH, POLISI
DAN MEMINTA BANTUAN DENGAN MENGHUBUNGI: - NAMA, ALAMAT, NOMER TELEPON - NAMA,
ALAMAT, NOMER TELEPON SEGALA PERONGKOSAN/UANG YANG DIPERLUKAN UNTUK MENERUSKAN
BERITA INI AKAN DIGANTI DUA KALI LIPAT. TERIMA KASIH.
Formulir ini diberikan kepada pejabat dan instansi berwenang setempat dan ditempel
di kaca mobil.
Macam-macam bahaya :
•Terjatuh, seringkali akibat kesalahan estimasi terhadap jarak (distorsi)
karena gelap. Melompat adalah hal yang haram dalam kegiatan penelusuran gua
•Kekurangan oksigen dan gas beracun, lorong penuh kelelawar atau tumpukan
guano, banyak terdapat akar pohon menjulur, tidak berair, berbau belerang dan
pengap harus dihindari karena penuh dengan kandungan gas beracun seperti CO dan
HS. Tanda-tanda umum kurangnya oksigen atau serangan gas racun biasanya terjadi
pening dan halusinasi
•Keruntuhan atap dan meledak, adalah kejadian tak terduga yang tidak dapat
dihindari bisa diakibatkan gempa bumi atau ledakan dalam gua (jangan membuang sisa
karbit dalam gua atau masuk ke lorong penuh guano dengan lampu karbit). Untuk
menghindarinya perhatikan apakah lokasi tersebut merupakan bekas penambangan kapur
atau dekat dengan lokasi peledakan dinamit sebuah proyek
•Banjir, bisa dideteksi bila terdengar suara gemuruh dalam lorong, air sungai
yang terasa hangat dan terlihat sampah hanyut dalam aliran air. Perhatikan batas
air di dinding sehingga dapat diperkirakan ketinggian air saat banjir, tentukan
juga sebuah lokasi atau cekungan di atas batas banjir sebagai tempat berlindung
darurat bila terjebak banjir
•Hewan berbisa, walaupun menurut pakar biospeleologi mereka ini hidup di
daerah mulut gua sampai 100 m. ke dalam namun bisa saja hewan seperti ular ditemui
jauh di dalam gua karena terhanyut aliran air atau terperosok ke dalam dari atap
atau ventilasi gua. Hindarilah cekungan dan lobang di sekitar mulut gua karena di
tempat itu mereka bersarang. Bahaya lain adalah gigitan atau kelelawar dapat
mengakibatkan rabies, kotorannya (guano) menyebabkan histoplasmosis (penyakit
jalan pernafasan seperti TBC). namun umumnya hewan gua tidak mengganggu
•Eksposure, hipotermia dan dehidrasi sangat mungkin terjadi akibat terpaan
angin kencang dari aven (ventilasi gua atau jendela karst), baju yang basah karena
berendam terlalu lama dalam air gua. Dehidrasi dapat dihindari dengan jalan minum
sebelum haus (ingat sedia payung sebelum mendung) karena minum di saat haus datang
berarti sudah sangat terlambat karena lebih dari 25% cairan tubuh telah lenyap,
ingat penguapan cairan dan panas tubuh dalam gua terjadi sangat cepat tanpa terasa
(bahkan dapat dilihat dengan jelas uap air yang keluar dari tubuh bila dilihat
dengan sorot lampu)
•Kegagalan peralatan, kelengkapan dan kecanggihan peralatan bukan jaminan
apabila tidak diikuti dengan perawatan dan pengetesan rutin
•Bahaya terbesar bagi penelusur gua 99% justru adalah di jalan raya,
kelelahan akibat padatnya jadwal penelusuran mengurangi konsentrasi pada saat
mengemudi. Jalan terbaik sewalah pengemudi profesional yang tidak terlibat dalam
tim sebagai tenaga penunjang mobilitas.
dengan sorot lampu)
•Kegagalan peralatan, kelengkapan dan kecanggihan peralatan bukan jaminan
apabila tidak diikuti dengan perawatan dan pengetesan rutin
•Bahaya terbesar bagi penelusur gua 99% justru adalah di jalan raya,
kelelahan akibat padatnya jadwal penelusuran mengurangi konsentrasi pada saat
mengemudi. Jalan terbaik sewalah pengemudi profesional yang tidak terlibat dalam
tim sebagai tenaga penunjang mobilitas.
Bibliografi
Budworth, Geoffrey. “The Knot Book”, Great Britan : Paerfronts
Judson, David. “Caving Practice and Equipment”, London : British Cave Research
Association, 1984.
Lyon, Ben. “Venturing Underground”, London : EP Publishing Ltd, 1983.
Mc Clurg, Dain. “ Exploring Caves : A Guide to The Underground Wilderness”,
Ontario : Thomas Nelson & Sons Ltd, 1980.
Meredith, Mike, “ Vertikal Caving”, Paris , 1982.
Montgomery, R.Neil. “ Single Rope Technique : A guide for vertical cavers”, Sydney
: The Sydney Speleological Society, 1977.
Edwin, Norman, “ Etika Dasar Penelusuran Gua”, Jakarta : Paper Kursus Dasar III
1983.
Edwin, Norman, “ Caving : Menelusuri Kegelapan”, Jakarta : Paper Kursus Dasar III
1983.
Soemarno, Sidarta Ir, “Gua ditinjau dari segi Geologi”, Jakarta : Paper Kursus
Dasar III 1983.
. Williams, Tony Lewis, “ Manual of US Cave Rescue Techniques”, Alabama : National
Cave Res
Budworth, Geoffrey. “The Knot Book”, Great Britan : Paerfronts
Judson, David. “Caving Practice and Equipment”, London : British Cave Research
Association, 1984.
Lyon, Ben. “Venturing Underground”, London : EP Publishing Ltd, 1983.
Mc Clurg, Dain. “ Exploring Caves : A Guide to The Underground Wilderness”,
Ontario : Thomas Nelson & Sons Ltd, 1980.
Meredith, Mike, “ Vertikal Caving”, Paris , 1982.
Montgomery, R.Neil. “ Single Rope Technique : A guide for vertical cavers”, Sydney
: The Sydney Speleological Society, 1977.
Edwin, Norman, “ Etika Dasar Penelusuran Gua”, Jakarta : Paper Kursus Dasar III
1983.
Edwin, Norman, “ Caving : Menelusuri Kegelapan”, Jakarta : Paper Kursus Dasar III
1983.
Soemarno, Sidarta Ir, “Gua ditinjau dari segi Geologi”, Jakarta : Paper Kursus
Dasar III 1983.
. Williams, Tony Lewis, “ Manual of US Cave Rescue Techniques”, Alabama : National
Cave Res

Tidak ada komentar:
Posting Komentar