Jumat, 15 Juli 2011

ARGAPITA keakraban Materi


ICE BREAKING
Tidak seperti game pada umumnya, ice breaking bisa sangat sederhana.  Ia bisa hanya terdiri dari beberapa kata atau gerakan. Fungsinya pun beragam, namun biasanya ia digunakan untuk mencairkan suasana. Dibawah ini saya berikan contoh ice breaking yang sering digunakan dalam berbagai kesempatan.
Karena mempunyai fungsi dan situasi yang hampr sama maka akan saya sajikan dengan satu pola umum di bawah ini:
1.      Tujuan: Tujuan ice breaking kita ini adalah mencairkan suasana
2.      Situasi: permainan ini cocok dilakukan kapanpun, terutama ketika audience sudah terlihat suntuk, untuk membuka acara atau hanya sekedar untuk selingan ditengan materi

GAME 1: APA KABAR ?
Prosedur :
-         Sampaikan pada audience, buat kesepakatan diawal bila kita bertanya sesuatu maka audience harus menjawab dengan kata-kata yang disepakati.
-         Tanya kabar ini bisa bermacam-macam, missal:
o       Tanya : Bagaimana kabarnya pada pagi hari ini…!
o       Jawab: Alhamdulillah, luar biasa Allahu akbar…!

o       Tanya : How are you today?
o       Jawab: Excellent….! Atau Fantastic…!
-         Keterangan : kata-kata yang diucapkan bisa bervariasi, bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan kita.

GAME 2 :
PERMAINAN KONSENTRASI

“IKUTI APA YANG SAYA KATAKAN”
Prosedur:
-         Pertama sampaikan peraturannya kepada audience. Setelah semuanya paham barulah dimulai. Kalau perlu berilah contoh/praktekan sekali saja:
-         Kata kunci kita pada permainan ini adalah instruksi : “Ikuti Apa Yang Saya Katakan”  peserta disuruh mengikuti kata-kata trainer. Trainer bisa memilih beberapa benda atau hewan untuk disebutkan, misalnya:
o       ayam-ayam, itik-itik, ayam itik itik ayam,(diulang-ulang sampai beberapa kali). Setelah cukup puas membuat peserta senang, katakan: ada berapa ayam? (biasanya peserta akan bingung dan terdiam di sini, kebanyakan dari mereka bahkan minta agar permainan diulang)
o       ikuti saja kemauan mereka, diulang  beberapa kali dengan tetap menyebutkan instruksi permainan ini. Mungkin akan keluar jawaban-jawaban berupa angka-angka, katakan bahwa semua jawaban salah…! Maka harus diulangi lagi. Setelah beberapa lama, biasanya audience akan sadar terhadap instruksinya, sehingga jawabannya pun akan benar. Karena yang disuruh bukan menghitung ayam atau itiknya, tapi untuk mengikuti yang dikatakan trainer.
-         Inti dari permainan ini adalah konsentrasi, aitu untuk  mengenali dan melaksanakan instruksi yang diberikan, bukan untuk menghitung jumlah ayam atau itik.

“TEBAK APA YANG SAYA KATAKAN”
Prosedur :
-         Sampaikan instruksi permainan ini: “tebak apa yang saya katakan”
-         Sanbil menunjukkan jempol, trainer mengucapkan ini ayam
-         Ketika menunjukkan telunjuk trainer mengucapkan  yang ini sapi
-         Kemudian ketika menunjukkan jari tengah trainer mengucapkan kalo yg ini kerbau.
-         Tanyakan kepada peserta sudah paham atau belum, praktekan sekali untuk mengetest kepahaman mereka, setelah dirasa paham, barulah trainer menjalankan aksinya.
-         Peserta diminta menebak apa yang trainer katakana, katakana seperti contoh diatas, setelah selesai, katakan” Kalo yang ini” tetapi kita menunjuk pada jari kelingking. Biasanya peserta akan bingung dan protes. Ulangi lagi dengan variasi lain. Sampai terjawab dengan benar.
-         Ketika peserta telah memahami instruksi diatas, maka ia akan mengikuti kata kunci tanpa memperhatikan jari mana yang kita tunjukkan. Jawaban yang benar adalah bila trainer menyebutkan “ini”, maka jawabannya adalah “ayam” dst, seperti dibawah ini:
Pertanyaan
Jawaban
ini
ayam
yang ini
sapi
kalo yang ini
kerbau
-         Nama hewan dan urutan bisa terserah trainer, jadi letak seru atau tidaknya permainan ini adalah bagaimana peserta bingung menjawab pertanyaan trainer kkarena tidak memperhatikan instruksi.

Kamis, 14 Juli 2011

Materi ARGAPITA

MOUNTAINEERING
 Oleh : Fajrul Iman Ibrahim N.S.A (003/MAHESA/PENDIRI/2007)
I. PENDAHULUAN
Aktivitas mendaki gunung akhir-akhir ini nampaknya bukan lagi merupakan suatu
kegiatan yang langka, artinya tidak lagi hanya dilakukan oleh orang tertentu (yang
menamakan diri sebagai kelompok Pencinta Alam, Penjelajah Alam dan semacamnya).
Melainkan telah dilakukan oleh orang-orang dari kalangan umum. Namun demikian
bukanlah berarti kita bisa menganggap bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan
aktivitas mendaki gunung, menjadi bidang ketrampilan yang mudah dan tidak memiliki
dasar pengetahuan teoritis. Didalam pendakian suatu gunung banyak hal-hal yang
harus kita ketahui (sebagai seorang pencinta alam) yang berupa : aturan-aturan
pendakian, perlengkapan pendakian, persiapan, cara-cara yang baik, untuk mendaki
gunung dan lain-lain. Segalanya inilah yang tercakup dalam bidang Mountaineering.
Mendaki gunung dalam pengertian Mountaineering terdiri dari tiga tahap kegiatan,
yaitu :
1. Berjalan (Hill Walking)
Secara khusus kegiatan ini disebut mendaki gunung. Hill Walking adalah kegiatan
yang paling banyak dilakukan di Indonesia. Kebanyakan gunung di Indonesia memang
hanya memungkinkan berkembangnya tahap ini. Disini aspek yang lebih menonjol
adalah daya tarik dari alam yang dijelajahi (nature interested)
2. Memanjat (Rock Climbing)
Walaupun kegiatan ini terpaksa harus memisahkan diri dari Mountaineering, namun ia
tetap merupakan cabang darinya. Perkembangan yang pesat telah melahirkan banyak
metode-metode pemanjatan tebing yang ternyata perlu untuk diperdalam secara
khusus. Namun prinsipnya dengan tiga titik dan berat dan kaki yang berhenti,
tangan hanya memberi pertolongan.
3. Mendaki gunung es (Ice & Snow Climbing)
Kedua jenis kegiatan ini dapat dipisahkan satu sama lain. Ice Climbing adalah
cara-cara pendakian tebing/gunung es, sedangkan Snow Climbing adalah teknik-teknik
pendakian tebing gunung salju.
Dalam ketiga macam kegiatan di atas tentu didalamnya telah mencakup :
Mountcamping, Mount Resque, Navigasi medan dan peta, PPPK pegunungan, teknik-
teknik Rock Climbing dan lain-lain.
II. PERSIAPAN MENDAKI GUNUNG
1. Pengenalan Medan
Untuk menguasai medan dan memperhitungkan bahaya obyek seorang pendaki harus
menguasai menguasai pengetahuan medan, yaitu membaca peta, menggunakan kompas
serta altimeter.
Mengetahui perubahan cuaca atau iklim. Cara lain untuk mengetahui medan yang akan
dihadapi adalah dengan bertanya dengan orang-orang yang pernah mendaki gunung
tersebut. Tetapi cara yang terbaik adalah mengikut sertakan orang yang pernah
mendaki gunung tersebut bersama kita.
2. Persiapan Fisik
Persiapan fisik bagi pendaki gunung terutama mencakup tenaga aerobic dan
kelenturan otot. Kesegaran jasmani akan mempengaruhi transport oksigen melelui
peredaran darah ke otot-otot badan, dan ini penting karena semakin tinggi suatu
daerah semakin rendah kadar oksigennya.
3. Persiapan Tim
Menentukan anggota tim dan membagi tugas serta mengelompokkannya dan merencanakan
semua yang berkaitan dengan pendakian.
4. Perbekalan dan Peralatan
Persiapan perlengkapan merupakan awal pendakian gunung itu sendiri. Perlengkapan
mendaki gunung umumnya mahal, tetapi ini wajar karena ini merupakan pelindung
keselamatan pendaki itu sendiri. Gunung merupakan lingkungan yang asing bagi organ
tubuh kita yang terbiasa hidup di daerah yang lebih rendah. Karena itu diperlukan
perlengkapan yang memadai agar pendaki mampu menyesuaikan di ketinggian yang baru
itu. Seperti sepatu, ransel, pakaian, tenda, perlengkapan tidur, perlengkapan
masak, makanan, obat-obatan dan lain-lain.
III. BAHAYA DI GUNUNG
Dalam olahraga mendaki gunung ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya
suatu pendakian.
1. Faktor Internal
Yaitu faktor yang datang dari si pendaki sendiri. Apabila faktor ini tidak
dipersiapkan dengan baik akan mendatangkan bahaya subyek yaitu karena persiapan
yang kurang baik, baik persiapan fisik, perlengkapan, pengetahuan, ketrampilan dan
mental.
2. Faktor Eksternal
Yaitu faktor yang datang dari luar si pendaki. Bahaya ini datang dari obyek
pendakiannya (gunung), sehingga secara teknik disebut bahaya obyek. Bahaya ini
dapat berupa badai, hujan, udara dingin, longsoran hutan lebat dan lain-lain.
Kecelakaan yang terjadi di gunung-gunung Indonesia umumnya disebabkan faktor
intern. Rasa keingintahuan dan rasa suka yang berlebihan dan dorongan hati untuk
pegang peranan, penyakit, ingin dihormati oleh semua orang serta keterbatasan-
keterbatasan pada diri kita sendiri.
IV. LANGKAH-LANGKAH DAN PROSEDUR PENDAKIAN
Umumnya langkah-langkah yang biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok pencinta alam
dalam suatu kegiatan pendakian gunung meliputi tiga langkah, yaitu :
1. Persiapan
Yang dimaksud persiapan pendakian gunung adalah :
•Menentukan pengurus panitia pendakian, yang akan bekerja mengurus :
Perijinan pendakian, perhitungan anggaran biaya, penentuan jadwal pendakian,
persiapan perlengkapan/transportasi dan segala macam urusan lainnya yang berkaitan
dengan pendakian.
•Persiapan fisik dan mental anggota pendaki, ini biasanya dilakukan dengan
berolahraga secara rutin untuk mengoptimalkan kondisi fisik serta memeksimalkan
ketahanan nafas. Persiapan mental dapat dilakukan dengan mencari/mempelajari
kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga timbul dalam pendakian beserta cara-cara
pencegahan/pemecahannya.
2. Pelaksanaan
Bila ingin mendaki gunung yang belum pernah didaki sebelumnya disarankan membawa
guide/penunjuk jalan atau paling tidak seseorang yang telah pernah mendaki gunung
tersebut, atau bisa juga dilakukan dengan pengetahuan membaca jalur pendakian.
Untuk memudahkan koordinasi, semua peserta pendakian dibagi menjadi tiga kelompok,
yaitu :
- Kelompok pelopor
- Kelompok inti
- Kelompok penyapu
Masing-masing kelompok, ditunjuk penanggungjawabnya oleh komandan lapangan
(penanggungjawab koordinasi).
Daftarkan kelompok anda pada buku pendakian yang tersedia di setiap base camp
pendakian, biasanya menghubungi anggota SAR atau juru kunci gunung tersebut.
Didalam perjalanan posisi kelompok diusahakan tetap yaitu : Pelopor di depan
(disertai guide), kelompok initi di tengah, dan team penyapu di belakang. Jangan
sesekali merasa segan untuk menegur peserta yang melanggar peraturan ini.
Demikian juga saat penurunan, posisi semula diusahakan tetap. Setelah tiba di
puncak dan di base camp jangan lupa mengecek jumlah peserta, siapa tahu ada yang
tertinggal.
3. Evaluasi
Biasakanlah melakukan evaluasi dari setiap kegiatan yang anda lakukan, karena
dengan evaluasi kita akan tahu kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan. Ini
menuju perbaikan dan kebaikan (vivat et floreat).
V. FISIOLOGI TUBUH DI PEGUNUNGAN
Mendaki gunung adalah perjuangan, perjuangan manusia melawan ketinggian dan segala
konsekuensinya. Dengan berubahnya ketinggian tempat, maka kondisi lingkungan pun
jelas akan berubah. Anasir lingkungan yang perubahannya tampak jelas bila
dikaitkan dengan ketinggian adalah suhu dan kandungan oksigen udara. Semakin
bertambah ketinggian maka suhu akan semakin turun dan kandungan oksigen udara juga
semakin berkurang.
Fenomena alam seperti ini beserta konsekuensinya terhadap keselamatan jiwa kita,
itulah yang teramat penting kita ketahui dalam mempelajari proses fisiologi tubuh
di daerah ketinggian. Banyak kecelakaan terjadi di pegunungan akibat kurang
pengetahuan, hampa pengalaman dan kurang lengkapnya sarana penyelamat.
1. Konsekuensi Penurunan Suhu
Manusia termasuk organisme berdarah panas (poikiloterm), dengan demikian manusia
memiliki suatu mekanisme thermoreguler untuk mempertahankan kondisi suhu tubuh
terhadap perubahan suhu lingkungannya. Namun suhu yang terlalu ekstrim dapat
membahayakan. Jika tubuh berada dalam kondisi suhu yang rendah, maka tubuh akan
terangsang untuk meningkatkan metabolisme untuk mempertahankan suhu tubuh internal
(mis : dengan menggigil). Untuk mengimbangi peningkatan metabolisme kita perlu
banyak makan, karena makanan yang kita makan itulah yang menjadi sumber energi dan
tenaga yang dihasilkan lewat oksidasi.
2. Konsekuensi Penurunan Jumlah Oksigen
Oksigen bagi tubuh organisme aerob adalah menjadi suatu konsumsi vital untuk
menjamin kelangsungan proses-proses biokimia dalam tubuh, konsumsi dalam tubuh
biasanya sangat erat hubungannya dengan jumlah sel darah merah dari konsentrasi
haemoglobin dalam darah. Semakin tinggi jumlah darah merah dan konsentrasi
Haemoglobin, maka kapasitas oksigen respirasi akan meningkat. Oleh karena itu
untuk mengatasi kekurangan oksigen di ketinggian, kita perlu mengadakan latihan
aerobic, karena disamping memperlancar peredaran darah, latihan ini juga
merangsang memacu sintesis sel-sel darah merah.
3. Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani adalah syarat utama dalam pendakian. Komponen terpenting yang
ditinjau dari sudut faal olahraga adalah system kardiovaskulare dan
neuromusculare.
Seorang pendaki gunung pada ketinggian tertentu akan mengalami hal-hal yang kurang
enak, yang disebabkan oleh hipoksea (kekurangan oksigen), ini disebut penyakit
gunung (mountain sickness). Kapasitas kerja fisik akan menurun secara menyolok
 harus melengkapi dengan alat lainnya yaitu :
• Sit Harnes (dada), tali pengaman dada
• Harnes duduk, tali pengaman/tambatan pinggang
• Buntut sapi (Cow's Tails) atau tali pengaman darurat
• Maillon Rapide (Delta), penyambung harnes dan tempat mengait alat
• Croll (Chest Jammer) alat menaiki tali
• Hand Jammer, alat menaiki tali
• Decender, alat untuk menuruni tali
• Tali prusik, 2 pasang
• Webbing, tali pita.

B. Perlengkapan kolektif :
Peralatan ini sangat dibutuhkan untuk kegiatan bersama (beregu) dan harus ada
seseorang yang bertanggung jawab pada peralatan tersebut. Pemeliharaan barang
kolektif ini sebaiknya dilakukan bersama dan dapat juga ditugaskan kepada satu
orang. Sebaiknya yang memelihara alat tersebut diserahkan pada orang yang mengerti
pada peralatan tersebut, jangan diberikan pada pemula karena sensitifnya
peralatan. Namun adakalanya kecenderungan dalam suatu organisasi untuk melimpahkan
tanggung jawab tersebut pada pemula, dalam hal ini sangatlah tidak tepat.
•Tali, dalam hal ini mutlah diperlukan dalam kegiatan penelusuran gua
vertikal. Alat ini sangat sensitif dan nyawa penelusur bergantung pada kualitas
dan cara pemeliharaannya. Untuk penelusuran dipergunakan tali statik atau tali
Speleo dan diperlukan yang berdiameter 9 - 11 mili. Untuk panjang tali disesuaikan
dengan kebutuhan
•Tangga kawat baja, sangat fleksibel dalam penggunaannya dan mudah dibawa.
Sangat aman untuk melintasi air terjun terurtama jika rombongan sebagian besar
kurang mampu menggunakan peralatan SRT. Tiap penggunaan tangga baja ini harus
menggunakan pengaman (Safty line) tali dinamis
•Tas besar (speleo bag), untuk tempat tali atau peralatan yang lainnya
• Perahu karet, untuk mengarungi sungai atau danau
• Pulley, sering disebut dengan katrol dan bermanfaat untuk Rescue
8. Bahaya-bahaya

Survival dalam caving tidaklah dimungkinkan, oleh karena itu kecelakaan di dalam
gua selalu berakibat fatal. Karena dilakukan dalam keadaan gelap total maka
tingkat kesulitan dan resiko setiap aktifitas adalah 2 kali lipat daripada di luar
gua. Apalagi di Indonesia belum ada (belum mampu) membentuk suatu tim rescue (SAR)
gua baik secara lokal maupun nasional walaupun telah banyak gua dibuka sebagai
obyek wisata. Di luar negeri fasilitas SAR adalah sarana mutlak bagi
penyelenggaraan suatu obyek wisata gua.
NSS USA menyebutkan usia minimum penelusur gua (profesional dan amatir) adalah 20
tahun sebagai batas psikologis (kecuali beberapa gua wisata khusus mengijinkan
siswa SD masuk). Alasan utamanya karena 90% kejadian kecelakaan menimpa mereka
dengan klasifikasi "Young (Teenager) Male Unafiliated Novice" (Remaja/anak laki-
laki belasan tahun yang tidak terlatih dan tidak terdaftar pada kelompok
speleologi resmi). Namun di Indonesia tidak ada ketentuan batasan umur, bahkan di
daerah tertentu seperti di Karang Bolong Jawa Barat remaja belasan tahun telah
memasuki gua untuk menambang kapur atau sarang burung walet dengan peralatan
tradisional. Maka jelas sekali bahwa kestabilan emosional dan
keterlatihan/keterampilan yang memadai adalah syarat utama keselamatan
penelusuran. Bahkan secara internasional syarat keterampilan ini seharusnya
dinyatakan dalam bentuk sertifikasi yang dikeluarkan melalui kursus / pelatihan
resmi oleh Federasi Speleologi setempat (di Indonesia adalah HIKESPI).
Oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila kalangan penelusuran gua memiliki
motto keselamatan "SEDIA PAYUNG SEBELUM MENDUNG" sehingga tidak cukup bersiaga
dikala ada gejala bahaya namun justru jauh sebelum itu. Maka estimasi perubahan
situasi harus senantiasa diperhatikan. Tingginya jam terbang, pengetahuan,
keterampilan dan senioritas tidak cukup dijadikan patokan keamanan karena apa yang
bakal dihadapi di dalam gua tidak seorangpun dapat memastikan. Etika pencegahan
kecelakaan adalah :
• Tidak memaksakan menelusuri gua bila badan kurang sehat
• Keterampilan kurang terutama pada gua vertikal
• Peralatan tidak lengkap, kurang terawat dan sudah uzur
• Kesiapan mental kurang (sedang patah hati atau stress)
• Anggota terlemah adalah patokan standar penelusuran, apabila anggota
terlemah mengalami gangguan maka saat itu juga penelusuran harus dihentikan tanpa
dapat ditawar lagi
•Jumlah anggota kelompok tidak kurang dari 4 orang
• Jangan masuk gua di musim hujan, seorang penelusur gua pada masa ini
biasanya cuti kegiatan dan hanya diisi dengan latihan ringan atau memperdalam
pengetahuan
•Mintalah ijin kepada orang tua dan aparat daerah setempat dan instansi
terkait sekaligus berpamitan dengan sejujurnya tentang tujuan dan lokasi kegiatan,
perhatikan dengan cermat serta patuhi segala wejangan atau nasihat mereka
•Tinggalkanlah pesan sebagai berikut :
o Hari, tanggal
o Nama pemimpin kelompok, alamat, no. telepon
o Nama, alamat, telepon anggota lain
o Tujuan memasuki gua : ILMIAH/OLAH RAGA/WISATA
o Nama gua, lokasi : (dukuh, desa, kecamatan, kabupaten) - Mulai masuk gua
pukul, rencana keluar pukul APABILA SAMPAI PUKUL..... BELUM KELUAR GUA MAKA
MUNGKIN TELAH TERJADI KECELAKAAN MAKA HARAP SEGERA MELAPOR KEPA- DA LURAH, POLISI
DAN MEMINTA BANTUAN DENGAN MENGHUBUNGI: - NAMA, ALAMAT, NOMER TELEPON - NAMA,
ALAMAT, NOMER TELEPON SEGALA PERONGKOSAN/UANG YANG DIPERLUKAN UNTUK MENERUSKAN
BERITA INI AKAN DIGANTI DUA KALI LIPAT. TERIMA KASIH.
Formulir ini diberikan kepada pejabat dan instansi berwenang setempat dan ditempel
di kaca mobil.
Macam-macam bahaya :
•Terjatuh, seringkali akibat kesalahan estimasi terhadap jarak (distorsi)
karena gelap. Melompat adalah hal yang haram dalam kegiatan penelusuran gua
•Kekurangan oksigen dan gas beracun, lorong penuh kelelawar atau tumpukan
guano, banyak terdapat akar pohon menjulur, tidak berair, berbau belerang dan
pengap harus dihindari karena penuh dengan kandungan gas beracun seperti CO dan
HS. Tanda-tanda umum kurangnya oksigen atau serangan gas racun biasanya terjadi
pening dan halusinasi
•Keruntuhan atap dan meledak, adalah kejadian tak terduga yang tidak dapat
dihindari bisa diakibatkan gempa bumi atau ledakan dalam gua (jangan membuang sisa
karbit dalam gua atau masuk ke lorong penuh guano dengan lampu karbit). Untuk
menghindarinya perhatikan apakah lokasi tersebut merupakan bekas penambangan kapur
atau dekat dengan lokasi peledakan dinamit sebuah proyek
•Banjir, bisa dideteksi bila terdengar suara gemuruh dalam lorong, air sungai
yang terasa hangat dan terlihat sampah hanyut dalam aliran air. Perhatikan batas
air di dinding sehingga dapat diperkirakan ketinggian air saat banjir, tentukan
juga sebuah lokasi atau cekungan di atas batas banjir sebagai tempat berlindung
darurat bila terjebak banjir
•Hewan berbisa, walaupun menurut pakar biospeleologi mereka ini hidup di
daerah mulut gua sampai 100 m. ke dalam namun bisa saja hewan seperti ular ditemui
jauh di dalam gua karena terhanyut aliran air atau terperosok ke dalam dari atap
atau ventilasi gua. Hindarilah cekungan dan lobang di sekitar mulut gua karena di
tempat itu mereka bersarang. Bahaya lain adalah gigitan atau kelelawar dapat
mengakibatkan rabies, kotorannya (guano) menyebabkan histoplasmosis (penyakit
jalan pernafasan seperti TBC). namun umumnya hewan gua tidak mengganggu
•Eksposure, hipotermia dan dehidrasi sangat mungkin terjadi akibat terpaan
angin kencang dari aven (ventilasi gua atau jendela karst), baju yang basah karena
berendam terlalu lama dalam air gua. Dehidrasi dapat dihindari dengan jalan minum
sebelum haus (ingat sedia payung sebelum mendung) karena minum di saat haus datang
berarti sudah sangat terlambat karena lebih dari 25% cairan tubuh telah lenyap,
ingat penguapan cairan dan panas tubuh dalam gua terjadi sangat cepat tanpa terasa
(bahkan dapat dilihat dengan jelas uap air yang keluar dari tubuh bila dilihat
dengan sorot lampu)
•Kegagalan peralatan, kelengkapan dan kecanggihan peralatan bukan jaminan
apabila tidak diikuti dengan perawatan dan pengetesan rutin
•Bahaya terbesar bagi penelusur gua 99% justru adalah di jalan raya,
kelelahan akibat padatnya jadwal penelusuran mengurangi konsentrasi pada saat
mengemudi. Jalan terbaik sewalah pengemudi profesional yang tidak terlibat dalam
tim sebagai tenaga penunjang mobilitas.
Bibliografi
Budworth, Geoffrey. “The Knot Book”, Great Britan : Paerfronts
Judson, David. “Caving Practice and Equipment”, London : British Cave Research
Association, 1984.
Lyon, Ben. “Venturing Underground”, London : EP Publishing Ltd, 1983.
Mc Clurg, Dain. “ Exploring Caves : A Guide to The Underground Wilderness”,
Ontario : Thomas Nelson & Sons Ltd, 1980.
Meredith, Mike, “ Vertikal Caving”, Paris , 1982.
Montgomery, R.Neil. “ Single Rope Technique : A guide for vertical cavers”, Sydney
: The Sydney Speleological Society, 1977.
Edwin, Norman, “ Etika Dasar Penelusuran Gua”, Jakarta : Paper Kursus Dasar III
1983.
Edwin, Norman, “ Caving : Menelusuri Kegelapan”, Jakarta : Paper Kursus Dasar III
1983.
Soemarno, Sidarta Ir, “Gua ditinjau dari segi Geologi”, Jakarta : Paper Kursus
Dasar III 1983.
. Williams, Tony Lewis, “ Manual of US Cave Rescue Techniques”, Alabama : National
Cave Res

Sabtu, 09 Juli 2011

Kiblat ARGAPITA

SEJARAH PECINTA ALAM

Jika saja kita mau melihat ke masa lalu sebetulnya sejarah manusia erat hubungannya dengan alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia masih berburu dan mengumpulkan makanan (meramu), alam adalah tempat tinggal mereka, tempat mereka bergantung dan hidup. Jajaran pegunungan adalah tempat mereka bersandar, lembah padang rumput merupakan tempat mereka berbaring, sungai adalah tempat mereka melepaskan dahaga, dan goa-goa adalah tempat mereka berlindung dari sengatan matahari dan terpaan hujan. Akan tetapi setelah manusia menemukan kebudayaan dan teknologi, alam menjadi seperti barang aneh dan selalu di eksploitasi. Manusia mulai mendirikan bangunan untuk mereka berlindung, manusia mulai menciptakan barang-barang untuk mendapatkan kemudahan dalam hidup mereka walau mereka tak menyadari barang-barang tersebut dapat mencemari alam. Manusia juga menciptakan gedung-gedung bertingkat untuk mengangkat kepala mereka dan menonjolkan keegoisan mereka, hingga pada akhirnya manusia dan alam mengukir sejarahnya sendiri-sendiri. Ketika keduanya bersatu dan saling menghormati kembali, maka saat itulah Sejarah Pecinta Alam dimulai:
Pada sekitar tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m) di kawasan Vercors Massif. Waktu itu belumlah terlalu jelas apakah mereka ini tergolong sebagai para pendaki gunung yang pertama. Namun beberapa dekade kemudian orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois (sejenis kambing gunung). Mungkin saja mereka ini para pemburu yang mendaki gunung, namun inilah pendakian gunung tertua yang pernah dicatat dalam sejarah. Pada sekitar tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang dapat dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di Perancis. Lalu pada tahun 1852 puncak Everest setinggi 8840 meter diketemukan. Orang-orang Nepal menyebutnya Sagarmatha atau menurut orang Tibet menyebutnya Chomolungma. Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itulah pendakian ke atap-atap dunia semakin ramai.
Di Indonesia sendiri sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan “Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju” di Papua. Nama orang Eropa ini dikemudian hari digunakan untuk salah satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yaitu Puncak Carstensz. Pada tanggal 18 Oktober 1953 di Indonesia berdiri sebuah perkumpulan yang diberi nama “Perkumpulan Pentjinta Alam” (PPA). PPA merupakan perkumpulan hobby yang dimaksudkan sebagai suatu kegemaran positif terlepas dari sifat maniak yang semata-mata ingin melepaskan nafsunya dalam corak negatif. Perkumpulan ini bertujuan mengisi kemerdekaan dengan kecintaan terhadap negeri ini selepas masa revolusi yang diwujudkan dengan mencintai alamnya serta memperluas dan mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Awibowo, salah satu pendiri perkumpulan ini mengusulkan istilah pecinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi.”Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini ?.” Satu kegiatan besar yang pernah diadakan PPA adalah pameran tahun 1954 dalam rangka ulang tahun kota Jogja, mereka membuat taman dan memamerkan foto kegiatan. Mereka juga sempat merenovasi Argodumilah (tempat melihat pemandang di desa Patuk) tepat di jalan masuk Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta. PPA juga sempat menerbitkan majalah “Pecintja Alam” yang terbit bulanan. Namun sayang perkumpulan ini tidak berumur lama, penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung hingga akhirnya pada tahun 1960 PPA dibubarkan.
Sejarah pecinta alam kampus di Indonesia dimula pada era tahun 1960-1970 an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan dikeluarkannya SK 028/3/1978 tentang Pembekuan Total Kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan Konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Gagasan mula-mula pendirian Pecinta Alam kampus dikemukakan oleh Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964 ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah bekerja bakti di TMP Kalibata. Sebetulnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh organisasi pecinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak Gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak hanya terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat, namun sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Setelah berbincang – bincang selama kurang lebih satu jam semua yang hadir antara lain : Soe Hok Gie, Maulana, Koy Gandasuteja, Ratnaesih (kemudian menjadi Ny. Maulana), Edhi Wuryantoro, Asminur Sofyan Udin, D armatin Suryadi, Judi Hidayat Sutarnadi, Wahjono, Endang Puspita, Rahayu,Sutiarti (kemudian menjadi Ny. Judi Hidayat) sepakat untuk membicarakan gagasan tadi pada keesokan harinya di FSUI.
Pada pertemuan kedua yang diadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, di depan ruang perpustakaan. Hadir pada saat itu semua yang sudah disebut ditambah Herman O. Lantang yang saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama organisasi yang akan lahir itu
IMPALA singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam. Setelah pendapat ditampung akhirnya diputuskan nama organisasi yang akan lahir itu IMPALA. Kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan membahas kapan dan dimana IMPALA akan diresmikan. Akan tetapi setelah bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum yaitu Drs. Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata juga menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar merubah nama IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Nama ini diberikan oleh Bpk. Moendardjito karena menggangap nama IMPALA terlalu borjuis. MAPALA merupakan singkatan dari Mahasiswa Pecinta Alam, selain itu MAPALA juga memiliki arti berbuah atau berhasil. Dan PRAJNAPARAMITA berarti dewi pengetahuan. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat perlindungan dewi pengetahuan. Ide pencetusan pada saat itu memang didasari oleh faktor politis selain dari hobi individual pengikutnya, dimaksudkan juga untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antar organisasi. Sampai akhirnya diresmikanlah organisasi ini pada tanggal 11 desember 1964 dengan peserta mencapai lebih dari 30 orang.
Dalam tulisannya di Bara Eka (13 Maret 1966), Soe Hok Gie mengatakan bahwa, “Tujuan Mapala ini adalah mencoba untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat dan almamaternya. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan jendela-jendela mobil. Mereka percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik.” Para mahasiswa itu diawali dengan berdirinya Mapala Universitas Indonesia, mencoba menghargai dan menghormati alam dengan menapaki alam mulai dari lautan hingga ke puncak-puncak gunung. Mencoba mencari makna akan hidup yang sebenarnya dan mencoba membuat sejarah bahwa manusia dan alam sekitar mempunyai kaitan yang erat. Sejak saat itulah Pecinta Alam merasuk tak hanya di kampus melainkan ke sekolah-sekolah, ke bilik-bilik rumah ibadah, lorong-lorong bahkan ke dalam jiwa-jiwa bebas yang merindukan pelukan sang alam.
Salam Rimba Lestari
Sumber:
www.scribd.com
www.great-outdoor-goblog.blogspot.com
www.groups.yahoo.com

Jumat, 08 Juli 2011

ARGAPITA Is The Best

Materi Pencinta Alam
Oleh : Fajrul Iman Ibrahim N.S.A (003/MAHESA/PENDIRI/2007)
“ARGAPITA (Arek-Arek Organisasi Pencinta Alam) merupakan salah satu ekstra Kurikuler No. 1 di SMA Negeri Tamanan yang keberadaannya di SMATAM selalu memberikan aroma harum kepada Sekolah dan Negara Indonesia. Dengan berdasar dari dua kata yaitu Cinta dan Alam.”
Ingatlah hai engkau penjelajah alam :
1.Take nothing, but pictures [jangan ambil sesuatu kecuali gambar]
2.Kill nothing, but times [jangan bunuh sesuatu kecuali waktu]
3.Leave nothing, but foot-print [jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki]
dan senantiasa ;
1.
Percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
2.
Percaya kepada kawan [dalam hal ini kawan adalah rekan penggiat dan
peralatan serta perlengkapan, tentu saja juga harus dibarengi bahwa diri kita
sendiri juga dapat dipercaya oleh “teman” tersebut dengan menjaga, memelihara dan
melindunginya]
3.
Percaya kepada diri sendiri, yaitu percaya bahwa kita mampu melakukan segala
sesuatunya dengan baik.
Sejarah Pencinta Alam Serta Perkembangannya
Apabila sejenak kita merunut dari belakang, sebetulnya sejarah manusia tidak jauh-
jauh amat dari alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia berburu dan
mengumpulkan makanan, alam adalah "rumah" mereka. Gunung adalah sandaran kepala,
padang rumput adalah tempat mereka membaringkan tubuh, dan gua-gua adalah tempat
mereka bersembunyi. Namun sejak manusia menemukan kebudayaan, yang katanya lebih
"bermartabat", alam seakan menjadi barang aneh. Manusia mendirikan rumah untuk
tempatnya bersembunyi. Manusia menciptakan kasur untuk tempatnya membaringkan
tubuh, dan manusia mendirikan gedung bertingkat untuk mengangkat kepalanya.
Manusia dan alam akhirnya memiliki sejarahnya sendiri-sendiri.
Ketika keduanya bersatu kembali, maka ketika itulah saatnya Sejarah Pecinta Alam
dimulai :
Pada tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville
mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Saat itu
belum jelas apakah mereka ini tergolong pendaki gunung pertama. Namun beberapa
dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan
Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Barangkali mereka itu
pemburu yang mendaki gunung. Tapi inilah pendakian gunung yang tertua pernah
dicatat dalam sejarah.
Di Indonesia, sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz
menemukan "Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju" di Papua.
Nama orang Eropa ini kemudian digunakan untuk salah satu gunung di gugusan
Pegunungan Jaya Wijaya yakni Puncak Cartensz. Pada tahun 1786 puncak gunung
tertinggi pertama yang dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di
Prancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi 8840 meter ditemukan. Orang
Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma menurut orang Tibet. Puncak Everest
berhasil Adicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari
Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi
Inggris. Sejak saat itu, pendakian ke atap-atap dunia pun semakin ramai.
Di Indonesia sejarah pecinta alam dimulai dari sebuah perkumpulan yaitu
"Perkumpulan Pentjinta Alam"(PPA). Berdiri 18 Oktober 1953. PPA merupakan
perkumpulan Hobby yang diartikan sebagai suatu kegemaran positif serta suci


terlepas dari 'sifat maniak'yang semata-mata melepaskan nafsunya dalam corak
negatif. Tujuan mereka adalah memperluas serta mempertinggi rasa cinta terhadap
alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Sayang perkumpulan
ini tak berumur panjang. Penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan
suasana yang belum terlalu mendukung sehingga akhirnya PPA bubar di akhir tahun
1960. Awibowo adalah pendiri satu perkumpulan pencinta alam pertama di tanah air
mengusulkan istilah pencinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripada
gemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna
mengabdi. "Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini?."
Ayo bergabung Bersama kami satukan semangat.......
Tunjukkan ARGAPITA selalu menjadi yang No. 1 di SMANTAM....
Sukses itu Bersama Kami....

Sabtu, 02 Juli 2011

Hidupku adalah Hidupku

 Que senang banget bisa bersama Mr. Jack...tak terlupakan bisa bercakap-cakap dengan dia....
 ARGAPITA adalah Organisasinya que....
 Que harus bisa buktikan ARGAPITA lebih baik dari ekstra yang lainnya....

Minggu, 15 Mei 2011

Kehidupan Itu Indah

Hidup di dunia ini ibarat 2 kepingg logam
ada 2 sisi kepada kita yaitu baik dan buruk saja....
beruntunglah ketika kita berada di sisi yang baik sekarang ini...